Social Icons

Pages

Featured Posts

Tuesday, 24 May 2016

model keperwatan di pelayanan kesehatan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk sehingga derajat kesehatan dapat dicapai secara optimal. Rumah sakit sebagai suatu pelayanan kesehatan yang membebankan  tugas melaksanakan upaya kesehatan yang berguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Berdasarkan tugas rumah sakit di atas, maka salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan.
Dalam aspek pelayanan keperawatan dimana pelayanan keperawatan sebagai bentuk kegiatan utama dari pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat belum dapat diwujudkan sebagai pelayanan kesehatan yang berkualitas. Keadaan actual pelayanan keperawatan menunjukkan bahwa banyak tenaga keperawatan lebih berkonsentrasi dan terlibat dengan tindakan pengobatan dan penggunaan tehnologi yang berorientasi edic untuk mengatasi kompleksitas penyakit. Mereka berupaya untuk saling mendukung dengan profesi kesehatan lain, namun sebagai praktisi mereka masih dinilai lebih rendah untuk komitmen dan tanggung jawab penting yang dibebankan.

B.     Rumusan Masalah
1.       Bagaimana model dan bentuk keperawatan professional?
2.      Apa saja 4 komponen utama dalam praktik keperawatan professional?
3.      Apa saja model keperawatan di pelayanan kesehatan?
       
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui model dan bentuk keperawatan professional.
2.      Untuk mengetahui komponen utama dalam praktik keperawatan professional.
3.      Untuk mengetahui model keperawatan di pelayanan kesehatan.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Model dan Bentuk keperawatan profesional 

Model Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).
Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Keperawatan Profesional (MAKP) menurut Mc. Laughin, Thomas dean Barterm (1995) mengidentifikasikan 8 model pemberian asuhan keperawatan, tetapi model yang umum dilakukan di rumah sakit adalah Keperawatan Tim dan Keperawatan Primer. Karena setiap perubahan akan berdampak terhadap suatu stress, maka perlu mempertimbangkan 6 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan (Marquis & Huston, 1998; 143) yaitu:
1.      Sesuai dengan visi dan misi institusi.
2.      Dapat diterapkan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan.
3.      Efisien dan efektif penggunaan biaya.
4.      Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat.
5.      Kepuasan kinerja perawat.
Pengembangan model ini bertujuan meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui penataan sistem pemberian asuhan keperawatan. Melalui model ini dapat ditetapkan rencana kebutuhan tenaga keperawatan secara profesional, metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan dan cara pendokumentasian asuhan keperawatan.
Model Praktek Keperawatan Profesional merupakan suatu model yang memberi kesempatan kepada para perawat profesional untuk menerapkan otonominya dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pelayanan/asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Model ini selalu mengupayakan bentuk pelayanan dan asuhan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan pasien melalui berbagai pendekatan. Pemberian asuhan keperawatan di ruang model ini berlandaskan nilai-nilai professional yang menunjukkan adanya otonomi, akuntabilitas perawat, dan pengembangan profesi yang memfokuskan setiap upaya keperawatan. pada kualitas pelayanan keperawatan yang tinggi. Kerja tim, kolaborasi, dan konsultasi dijalankan secara konsisten untuk meningkatkan hubungan professional.




                                                                       
B.     Komponen utama dalam praktik keperawatan profesional

Ø  Terdapat 4 komponen utama dalam model praktek keperawatan profesional, yaitu sebagai berikut :
1.      Ketenagaan Keperawatan
Penetapan jumlah tenaga keperawatan harus disesuaikan dengan kategori yang akan dibutuhan untuk asuhan keperawatan klien disetiap unit. Beberapa pendekatan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah staf yang akan dibutuhkan berdasarkan kategori klien yang dirawat,rasio perawat,dan klien untuk memenuhi standar praktek keperawatan.
A.    Kategori keperawatan klien:
a)      Perawatan mandiri (self care ), yaitu klien memerlukan bantuan minimal dalam melakukan tindakan keperawatan dan pengobatan. Klien melakukan aktifitas perawatan diri sendiri secara mandiri.
b)      Perawatan sebagian ( Partial Care ), yaitu klien memerlukan bantuan sebagian dalam tindakan keperawatan dan pengobatan tertentu. Misalnya pemberian obat intravena, pengatur posisi, dll.
c)      Perawatan Total ( Total Care ), yaitu klien memerlukan bantuan secara penuh dalam perawatan diri dan memerlukan observasi secara ketat.
d)     Perawatan Intensif ( Intensive Care ), yaitu klien memerlukan observasi dan tindakan keperawatan yang terus menerus.


B.     Kebutuhan waktu perawatan untuk pasien rawat inap dapat dirinci dengan melihat kebutuhan pasien untuk asuhan keperawatan melalui kegiatan sebagai berikut :
a)      Memandikan pasien 2 kali sehari @ 15 menit / pasien
b)      Memeriksa nadi , tensi dan suhu 3 kali sehari @ 15 menit/ hari
c)      Menyediakan makan 3 kali sehari @ 15 menit / hari
d)     Menyuntik pasien rata-rata 2 kali sehari @ 5 menit / hari
e)      Perawatan intensif utntuk pasien ICU / kritis (15% pasien) 60 menit/ pasien
f)       Membersihkan ruangan 2 kali sehari @ 60 menit / ruangan
g)      Turut visite dengan dokter 1 kali sehari @ 5 menit / pasien
h)      Menyusun laporan 30 menit / hari
Jadi, dengan mengelompokan klien menurut jumlah dan kompleksitas pelayanan keperawatan yang dibutuhkan klien, pimpinan keperawatan dapat memperhitungkan jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan masing-masing unit.





2.      Manajemen Asuhan Keperawatan

Manajemen asuhan keperawatan adalah bagian dari manajemen pelayanan keperawatan yang merupakan pelaksanaan proses keperawatan dengan menggunakan konsep-konsep manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengendalian atau evaluasi (Gillies, 1994).
Sistem pemberian asuhan keperawatan adalah suatu pendekatan pemberian asuhan keperawatan secara efektif dan efisien kepada sejumlah pasien. Terdapat 4 metode dalam pemberian asuhan keperawatan, yaitu metode fungsional, metode tim , metode primer dan metode kasus.

a.      Metode Fungsional
Metode ini diterapkan dalam penguasaan pekerja didunia industri ketika setiap pekerja dipusatkan pada satu tugas atau aktifitas. Dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan menggunakan metode fungsional, setiap perawat memperoleh suatu tugas untuk semua pasien diunit/ruang tempat perawat tersebut bekerja. Disatu unit/ruangan, seorang perawat diberikan tugas menyuntik maka perawat tersebut bertanggung jawab untuk memberikan program pengobatan melalui suntikan kepada pasien di unit/ruangan tersebut. Contoh penugasan yang lain adalah membagi obat per oral, mengganti balut, pendidikan kesehatan pada pasien yang akan pulang, dan sebagainya. 
Metode fungsional ini efisien, akan tetapi penugasan seperti ini tidak dapat memberikan kepuasan kepada pasien maupun perawat. Keberhasilan asuhan keperawatan secara menyeluruh tidak bisa dicapai dengan metode ini karena asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien terpisah-pisah sesuai tugas yang dibebankan kepada perawat. Disamping itu asuhan keperawatan yang diberikan tidak professional yang berdasarkan pada masalah pasien. Perawat senior cenderung akan sibuk dengan tugas-tugas administrasi dan manajerial. Sementara asuhan keperawatan kepada pasien dipercayakan kepada perawat junior.
Sekalipun metode fungsional dalam pemberian asuhan keperawatan ini membosankan perawat karena hanya berorientasi pada tugas, tetapi metode ini baik dan berguna untuk situasi di rumah sakit dengan ketenagaan perawat yang kurang. Metode ini juga dapat memberikan kepuasan kepada pasien yang membutuhkan pelayanan secara rutin.

·        Keuntungan dan Kerugian metode fungsional
Penerapan metode fungsional dalam pemberiaan asuhan keperawatan kepada pasien memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan dari metode fungsional yaitu:
1.           Perawat menjadi lebih terampil dalam melakukan satu tugas yang biasa menjadi tanggung jawabnya.
2.           Pekerjaan menjadi lebih efisien


3.           Relative sedikit dibutuhkan tenaga perawat
4.           Mudah dalam mengkoordinasi pekerjaan
5.           Perawat lebih mudah menyesuaikan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sehingga menjadi lebih cepat selesai.

Kerugiannya :
Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan tidak melihat pasien secara holistic dan tidak berfokus pada masalah pasien sehingga tidak professional, tidak memberikan kepuasaan baik pada pasien maupun pada perawat, dan kadang bisa terjadi saling melempar tanggung jawab bila terjadi kesalahan.

b.       Metode Kasus
Metode kasus adalah pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan untuk satu atau beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas atau jaga selama periode waktu tertentu sampai klien pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan klien. Dalam metode ini staf perawat ditugaskan oleh kepala ruangan untuk memberi asuhan langsung kepada pasien yang ditugaskan contohnya di ruang isolasi dan ICU.
Tujuan dari metode manajemen kasus keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien adalah untuk merumuskan dan mencapai hasil yang standar dalam perawatan untuk setiap pasien, memfasilitasi pasien yang akan pulang baik lebih awal dan masa perawatan yang ditentukan maupun pada waktu yang direncanakan, menggunakan sedikit mungkin sumber pelayanan kesehatan untuk mencapai hasil yang di harapkan, meningkatkan profesionalisasi perawat dan kepuasan kerja.
Dalam manajemen kasus keperawatan, seorang perawat akan bertugas sebagai case manager untuk seorang (mungkin lebih) pasien, sejak masuk rumah sakit hingga pasien tersebut selesai dari masa perawatan dan pengobatan. Sebagai case manager, perawat memiliki tanggung jawab dan kebebasan untuk perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, dan evaluasi.

·      Kelebihan metode kasus:
1.      Bersifat continue dan konfrehensif
2.      Perawat dalam metode kasus mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap pasien, perawat, dokter, dan rumah sakit. Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan karena terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu asuhan diberikan bermutu tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi sehingga pasien merasa puas.
3.      Dokter juga merasakan kepuasan dengan model primer karena senantiasa mendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang selalu diperbaharui dan komprehensif.
4.      Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat.
5.      Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai.

·      Kekurangan metode kasus :
1.      Kemampuan tenaga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara menyeluruh.
2.      Membutuhkan banyak tenaga.
3.      Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan.

c.       Metode Tim
Pengembangan metode tim ini didasarkan pada falsafah mengupayakan tujuan dengan menggunakan kecakapan dan kemampuan anggota kelompok. Metode ini juga didasari atas keyakinan bahwa setiap pasien berhak memperoleh peleyanan terbaik. Dalam keperawatan, metode tim terdiri dari perawat professional, nonprofessional, dan pembantu perawat.
Tujuan pemberian metode tim dalam asuhan keperawatan adalah untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan objektif pasien sehingga pasien merasa puas. Selain itu, memungkinkan adanya transfer  of knowledge dan transfer of experiences di antara perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dan meningkatkan pengetahuan serta memberikan keterampilan dan motivasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Dalam asuhan keperawatan dengan metode ini, ketua tim harus memiliki kemampuan untuk mengikutsertakan anggota tim dalam memecahkan masalah. Ketua tim juga harus dapat menerapkan pola asuhan keperawatan yang di anggap sesuai dengan kondisi pasien dan minat pemberi asuhan. Oleh karena itu, pembuatan keputusan, otoritas, dan tanggung jawab ada pada tingkat pelaksana. Hal ini akan mendukung pencapaian pengetahuan dan keterampilan professional. Berdasarkan hal-hal tersebut maka ketua tim harus memiliki kemampuan sebagai berikut :
1)       Mengomunikasikan dan mengoordinasikan semua kegiatan tim
2)       Menjadi konsultan dalam asuhan keperawatan
3)       Melakukan pengkajian dan menentukan kebutuhan pasien
4)       Menyusun rencana keperawatan untuk semua pasien
5)       Merefisi dan menyesuaikan rencana keperawatan sesuai kebutuhan pasien
6)       Melaksanakan observasi baik terhadap perkembangan pasien maupun kerja dari  anggota tim
7)       Melaksanakan evaluasi secara baik dan objektif
Bila kemampuan tersebut dapat di miliki oleh ketua tim, akan berdampak secara positif dalam pemberian asuhan keperawatan. Dibandingkan dalam metode fungsional, metode tim lebih banyak memberikan tanggung jawab,otoritas,dan tanggung gugat kepada anggota tim.




·      Keuntungan Metode Tim
Beberapa keuntungan dari metode tim dalam pemberian asuhan keperawatan adalah :
1)      Dapat memberi kepuasan kepada pasien dan perawat. Pasien merasa di perlakukan lebih manusiawi karena pasien memiliki sekelompok perawat yang lebih mengenal dan memahami kebutuhannya.
2)      Perawat dapat mengenali pasien secara individual karena perawatannya menangani pasien dalam jumlah yang sedikit. Hal ini, sangat memungkinkan merawat pasien secara konfrehensif dan melihat pasien secara holistic.
3)      Perawat akan memperlihatkan kerja lebih produktif melalui kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi dengan klien. Hal ini akan mempermudah dalam mengenali kemampuan anggota tim yang dapat di manfaatkan secara optimal.


d.      Metode Primer
Metode ini di kembangkan pada falsafah yang beriorentasi pada pasien bukan pada tugas. Disini terjadi suatu desentralisasi dalam pengambilan keputuan antara perawat primer dan pasien. Menurut Hegyvary (1982), pemberian asuhan keperawatan dengan metode keperawatan primer memberikan setiap perawat primer tanggung jawab menyeluruh (total care) dalam 24 jam/hari secara terus menurus untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pada sekelompok kecil pasien (4-6 pasien). Hal ini di mulai sejak pasien masuk hingga pulang/keluar (Gullies, 1994). Pada saat perawat primer tidak masuk, tindakan perawatan dapat dilakukan oleh perawat penggantinya (perawat asisten).
Dalam aplikasi metode keperawatan primer, perawat primer bertanggung jawab kepada setiap pasien untuk mengkaji kondisi kesehatan, keadaan kehidupannya, dan kebutuhan keperawatan. Selain itu, perawat primer memberikan perawatan sesuai rencana yang dibuat dan mengkoordinasi perawatan yang diberikan oleh anggaota tim kesehatan lainya, misalnya memberikan rujukan atau konsultasi dengan dokter atau lainnya untuk memberikan asuhan keperawatan individual, mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan yang dicapai, serta menyiapkan pasien pulang (discharge planning).

·      Keuntungan Metode Keperawatan Primer :
a)      Asuhan keperawatan lebih konprehensif dengan memperlakukan pasien secara holistic
b)      Pasien akan merasa lebih puas karena terjadi kesinambungan perawatan
c)      Perawat lebih puas karena disamping memiliki otoritas, perawat juga memiliki tanggung gugat didalam memberikan asuhan, hubungan terus menerus antara perawat dan pasien akan memudahkan pasien menyampaikan permasalahan serta dapat memperpendek lama hari perawatan bagi pasien.



3.      Proses Keperawatan

Proses keperawatan merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan perawat dalam menyusun kegiatan asuhan secara bertahap. Kebutuhan dan masalah pasien merupakan titik sentral dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam pengambilan keputusan adalah :
a)Identifikasi masalah,
b)        Menyusun alternatif penyelesaian masalah,
c)Pemilihan cara penyelesaian masalah yang tepat dan melaksanakannya,
d)        Evaluasi hasil dari pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah.
Seluruh langkah pengambilan keputusan ini tertuang pada langkah-langkah proses keperawatan yaitu:
a)Pengkajian fokus pada keluhan utama dan eksplorasi lebih holistik,
b)        Diagnosis yaitu menetapkan hubungan sebab akibat dari masalah masalah keperawatan,
c)Rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah,
d)        Implementasi rencana dan
e)Evaluasi hasil tindakan.


4.      Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan keperawatan, karena melalui pendokumentasian yang baik, maka informasi mengenai keadaan kesehatan pasien dapat diketahui secara berkesinambungan. Disamping itu, dokumentasi merupakan dokumen legal tentang pemberian asuhan keperawatan. Secara lebih spesifik, dokumentasi berfungsi sebagai sarana komunikasi antar profesi kesehatan, sumber data untuk pemberian asuhan keperawatan, sumber data untuk penelitian, sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan. Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. Dokumentasi berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan, catatan tindakan keperawatan, dan catatan perkembangan pasien.











C.    Model Praktek Keperawatan di Pelayanan Kesehatan

1.      Model Praktek di Rumah Sakit
Rumah sakit sebagai suatu sistem pelayanan Kesehatan yang mengemban tugas melaksanakan upaya Kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Berdasarkan tugas rumah sakit di atas, maka salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan. Yang dimaksud dengan pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah salah satu jenis pelayanan professional yang diselenggarakan oleh rumah sakit untuk melayani kebutuhan masyarakat khususnya dalam bidang keperawatan yang diorganisir melalui pelayanan rawat inap. Seluruh kegiatan pelayanan keperawatan di rumah sakit diselenggarakan selama 24 jam sehari secara berkesinambungan. Kegiatan tersebut diatur dan diorganisir oleh manajer keperawatan. Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan Kesehatan di rumah sakit, menentukan mutu pelayanan Kesehatan di rumah sakit, oleh karena keberadaan perawat yang memberikan asuhan keperawatan selama 24 jam secara berkesinambungan. Keluhan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan pada umumnya ditujukan pada sikap perawat yang kurang baik, kurang terampil dalam berkomunikasi.
Dalam aspek pelayanan keperawatan dimana pelayanan keperawatan sebagai bentuk kegiatan utama dari pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada masyarakat belum dapat diwujudkan sebagai pelayanan Kesehatan yang berkualitas. Keadaan actual pelayanan keperawatan menunjukkan bahwa banyak tenaga keperawatan lebih berkonsentrasi dan terlibat dengan tindakan pengobatan dan penggunaan tehnologi yang berorientasi medik untuk mengatasi kompleksitas penyakit. Mereka berupaya untuk saling mendukung dengan profesi Kesehatan lain, namun sebagai praktisi mereka masih dinilai lebih rendah untuk komitmen dan tanggung jawab penting yang diembannya.
Sebaliknya, sedikit sekali perawat yang melakukan pelayanan keperawatan berorientasi keperawatan yang dilandaskan pada teori dan konsep keperawatan untuk memenuhi kebutuhan individu yang sedang merngalami respon terhadap penyakit dan pengobatan. Sehingga karakteristik dari peran dan fungsi keperawatan dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit kurang terlihat secara jelas. Hal ini dapat memfasilitasi situasi yang kurang kondusif bagi tenaga keperawatan dalam mengembangkan kemampuan profesionalnya. Menyikapi kesenjangan yang terjadi dalam konteks pelayanan keperawatan, dirasakan perlunya upaya mengembangkan manajemen asuhan keperawatan sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pasien.



2

C.     Model Keperawatan di Masyarakat (Puskesmas)
Menurut The American Public Health Association perawat kesehatan masyarakat adalah praktek dari promosi dan perlindungan populasi dengan menggunakan pengetahuan keperawatan, ilmu social dan kesehatan masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2000).
Sesuai dengan Kepmenpan No.94 (2001) upaya keperawatan kesehatan masyarakat adalah pelayanan professional yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan di puskesmas yang dilaksanakan oleh perawat.
Perawat puskesmas mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan keperawatan dalam bentuk asuhan keperawatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, untuk mencapai kemandirian masyarakat baik di sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas.
Perawat Kesehatan di puskesmas adalah semua perawat di puskesmas yang menjabat sebagai pejabat fungsional perawat dan bekerja di puskesmas yang disebut dengan perawat puskesmas (Depkes RI, 2004).
Pelaksana utama dari kegiatan keperawatan kesehatan masyarakat adalah semua perawat fungsional keperawatan di puskesmas.























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

        Model Praktek Keperawatan Profesional merupakan suatu model yang memberi kesempatan kepada para perawat profesional untuk menerapkan otonominya dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pelayanan/asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Model ini selalu mengupayakan bentuk pelayanan dan asuhan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan pasien melalui berbagai pendekatan.
Terdapat 4 komponen utama dalam model praktek keperawatan profesional, yaitu Ketenagaan keperawatan, Manajemen asuhan keperawatan, Proses keperawatan dan Dokumentasi keperawatan.
Model praktek keperawatan di pelayanan kesehatan terbagi menjadi 2 yaitu : Model praktek pelayanan di Rumah Sakit dan di Puskesmas (Masyarakat)
























 
Blogger Templates