BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan
kesehatan diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk
hidup sehat bagi setiap penduduk sehingga derajat kesehatan dapat dicapai
secara optimal. Rumah sakit sebagai suatu pelayanan kesehatan yang
membebankan tugas melaksanakan upaya kesehatan
yang berguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang
dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan
serta melaksanakan upaya rujukan. Berdasarkan tugas rumah sakit di atas, maka
salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan
pelayanan dan asuhan keperawatan.
Dalam aspek pelayanan keperawatan
dimana pelayanan keperawatan sebagai bentuk kegiatan utama dari pelayanan kesehatan
yang diberikan kepada masyarakat belum dapat diwujudkan sebagai pelayanan kesehatan
yang berkualitas. Keadaan actual pelayanan keperawatan menunjukkan bahwa banyak
tenaga keperawatan lebih berkonsentrasi dan terlibat dengan tindakan pengobatan
dan penggunaan tehnologi yang berorientasi edic untuk mengatasi kompleksitas
penyakit. Mereka berupaya untuk saling mendukung dengan profesi kesehatan lain,
namun sebagai praktisi mereka masih dinilai lebih rendah untuk komitmen dan
tanggung jawab penting yang dibebankan.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
model dan bentuk keperawatan professional?
2.
Apa saja 4 komponen utama dalam praktik keperawatan professional?
3.
Apa saja model keperawatan di pelayanan kesehatan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui model dan bentuk
keperawatan professional.
2. Untuk mengetahui komponen utama
dalam praktik keperawatan professional.
3. Untuk mengetahui model keperawatan
di pelayanan kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Model dan Bentuk keperawatan profesional
Model
Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan
nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan
keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut
(Hoffart & Woods, 1996).
Dasar
Pertimbangan Pemilihan Model Keperawatan Profesional (MAKP) menurut Mc.
Laughin, Thomas dean Barterm (1995) mengidentifikasikan 8 model pemberian
asuhan keperawatan, tetapi model yang umum dilakukan di rumah sakit adalah
Keperawatan Tim dan Keperawatan Primer. Karena setiap perubahan akan berdampak
terhadap suatu stress, maka perlu mempertimbangkan 6 unsur utama dalam
penentuan pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan (Marquis & Huston,
1998; 143) yaitu:
1. Sesuai dengan visi dan misi
institusi.
2. Dapat diterapkan proses keperawatan
dalam asuhan keperawatan.
3. Efisien dan efektif penggunaan
biaya.
4. Terpenuhinya kepuasan klien,
keluarga dan masyarakat.
5. Kepuasan kinerja perawat.
Pengembangan model ini bertujuan meningkatkan mutu asuhan
keperawatan melalui penataan sistem pemberian asuhan keperawatan. Melalui
model ini dapat ditetapkan rencana
kebutuhan tenaga keperawatan secara profesional, metode pemberian asuhan
keperawatan yang digunakan dan cara pendokumentasian asuhan keperawatan.
Model Praktek Keperawatan
Profesional merupakan suatu model yang memberi kesempatan kepada para perawat
profesional untuk menerapkan otonominya dalam mendesain, melaksanakan, dan
mengevaluasi pelayanan/asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Model
ini selalu mengupayakan bentuk pelayanan dan asuhan keperawatan yang dapat
memenuhi kebutuhan pasien melalui berbagai pendekatan. Pemberian asuhan
keperawatan di ruang model ini berlandaskan nilai-nilai professional yang
menunjukkan adanya otonomi, akuntabilitas perawat, dan pengembangan profesi
yang memfokuskan setiap upaya keperawatan. pada kualitas pelayanan keperawatan
yang tinggi. Kerja tim, kolaborasi, dan konsultasi dijalankan secara konsisten
untuk meningkatkan hubungan professional.
B.
Komponen utama dalam praktik
keperawatan profesional
Ø Terdapat 4
komponen utama dalam model praktek keperawatan profesional, yaitu sebagai berikut
:
1. Ketenagaan Keperawatan
Penetapan
jumlah tenaga keperawatan harus disesuaikan dengan kategori yang akan dibutuhan
untuk asuhan keperawatan klien disetiap unit. Beberapa pendekatan dapat
digunakan untuk memperkirakan jumlah staf yang akan dibutuhkan berdasarkan
kategori klien yang dirawat,rasio perawat,dan klien untuk memenuhi standar
praktek keperawatan.
A.
Kategori keperawatan klien:
a)
Perawatan mandiri (self care ),
yaitu klien memerlukan bantuan minimal dalam melakukan tindakan keperawatan dan
pengobatan. Klien melakukan aktifitas perawatan diri sendiri secara mandiri.
b)
Perawatan sebagian ( Partial Care ),
yaitu klien memerlukan bantuan sebagian dalam tindakan keperawatan dan
pengobatan tertentu. Misalnya pemberian obat intravena, pengatur posisi, dll.
c)
Perawatan Total ( Total Care ),
yaitu klien memerlukan bantuan secara penuh dalam perawatan diri dan memerlukan
observasi secara ketat.
d)
Perawatan Intensif ( Intensive Care
), yaitu klien memerlukan observasi dan tindakan keperawatan yang terus
menerus.
B.
Kebutuhan waktu perawatan untuk
pasien rawat inap dapat dirinci dengan melihat kebutuhan pasien untuk asuhan
keperawatan melalui kegiatan sebagai berikut :
a)
Memandikan pasien 2 kali sehari @ 15
menit / pasien
b)
Memeriksa nadi , tensi dan suhu 3
kali sehari @ 15 menit/ hari
c)
Menyediakan makan 3 kali sehari @ 15
menit / hari
d)
Menyuntik pasien rata-rata 2 kali
sehari @ 5 menit / hari
e)
Perawatan intensif utntuk pasien ICU
/ kritis (15% pasien) 60 menit/ pasien
f)
Membersihkan ruangan 2 kali sehari @
60 menit / ruangan
g)
Turut visite dengan dokter 1 kali
sehari @ 5 menit / pasien
h)
Menyusun laporan 30 menit / hari
Jadi, dengan mengelompokan klien menurut jumlah dan
kompleksitas pelayanan keperawatan yang dibutuhkan klien, pimpinan keperawatan
dapat memperhitungkan jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan masing-masing
unit.
2. Manajemen Asuhan Keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan adalah
bagian dari manajemen pelayanan keperawatan yang merupakan pelaksanaan proses
keperawatan dengan menggunakan konsep-konsep manajemen seperti perencanaan,
pengorganisasian, penggerakkan dan pengendalian atau evaluasi (Gillies, 1994).
Sistem pemberian asuhan keperawatan
adalah suatu pendekatan pemberian asuhan keperawatan secara efektif dan efisien
kepada sejumlah pasien. Terdapat 4 metode dalam pemberian asuhan keperawatan,
yaitu metode fungsional, metode tim , metode primer dan metode kasus.
a.
Metode Fungsional
Metode ini
diterapkan dalam penguasaan pekerja didunia industri ketika setiap pekerja
dipusatkan pada satu tugas atau aktifitas. Dalam memberikan asuhan keperawatan
kepada pasien dengan menggunakan metode fungsional, setiap perawat memperoleh
suatu tugas untuk semua pasien diunit/ruang tempat perawat tersebut bekerja.
Disatu unit/ruangan, seorang perawat diberikan tugas menyuntik maka perawat
tersebut bertanggung jawab untuk memberikan program pengobatan melalui suntikan
kepada pasien di unit/ruangan tersebut. Contoh penugasan yang lain adalah
membagi obat per oral, mengganti balut, pendidikan kesehatan pada pasien yang
akan pulang, dan sebagainya.
Metode
fungsional ini efisien, akan tetapi penugasan seperti ini tidak dapat
memberikan kepuasan kepada pasien maupun perawat. Keberhasilan asuhan keperawatan
secara menyeluruh tidak bisa dicapai dengan metode ini karena asuhan
keperawatan yang diberikan kepada pasien terpisah-pisah sesuai tugas yang
dibebankan kepada perawat. Disamping itu asuhan keperawatan yang diberikan
tidak professional yang berdasarkan pada masalah pasien. Perawat senior
cenderung akan sibuk dengan tugas-tugas administrasi dan manajerial. Sementara
asuhan keperawatan kepada pasien dipercayakan kepada perawat junior.
Sekalipun
metode fungsional dalam pemberian asuhan keperawatan ini membosankan perawat
karena hanya berorientasi pada tugas, tetapi metode ini baik dan berguna untuk
situasi di rumah sakit dengan ketenagaan perawat yang kurang. Metode ini juga
dapat memberikan kepuasan kepada pasien yang membutuhkan pelayanan secara
rutin.
·
Keuntungan dan Kerugian metode
fungsional
Penerapan metode fungsional dalam
pemberiaan asuhan keperawatan kepada pasien memiliki beberapa keuntungan.
Keuntungan dari metode fungsional yaitu:
1.
Perawat menjadi lebih terampil dalam
melakukan satu tugas yang biasa menjadi tanggung jawabnya.
2.
Pekerjaan menjadi lebih efisien
3.
Relative sedikit dibutuhkan tenaga
perawat
4.
Mudah dalam mengkoordinasi pekerjaan
5.
Perawat lebih mudah menyesuaikan
dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sehingga menjadi lebih cepat
selesai.
Kerugiannya
:
Perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan tidak melihat pasien secara holistic dan
tidak berfokus pada masalah pasien sehingga tidak professional, tidak memberikan
kepuasaan baik pada pasien maupun pada perawat, dan kadang bisa terjadi saling
melempar tanggung jawab bila terjadi kesalahan.
b.
Metode Kasus
Metode kasus
adalah pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan untuk satu atau
beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas atau jaga selama
periode waktu tertentu sampai klien pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab
dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan
klien. Dalam metode ini staf perawat ditugaskan oleh kepala ruangan untuk
memberi asuhan langsung kepada pasien yang ditugaskan contohnya di ruang
isolasi dan ICU.
Tujuan dari metode manajemen kasus keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien adalah untuk merumuskan dan
mencapai hasil yang standar dalam perawatan untuk setiap pasien, memfasilitasi
pasien yang akan pulang baik lebih awal dan masa perawatan yang ditentukan
maupun pada waktu yang direncanakan, menggunakan sedikit mungkin sumber
pelayanan kesehatan untuk mencapai hasil yang di harapkan, meningkatkan
profesionalisasi perawat dan kepuasan kerja.
Dalam manajemen kasus keperawatan, seorang perawat akan
bertugas sebagai case manager untuk seorang (mungkin lebih) pasien, sejak masuk
rumah sakit hingga pasien tersebut selesai dari masa perawatan dan pengobatan.
Sebagai case manager, perawat memiliki tanggung jawab dan kebebasan untuk
perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, dan evaluasi.
·
Kelebihan metode kasus:
1.
Bersifat continue dan konfrehensif
2.
Perawat dalam metode kasus
mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap pasien, perawat, dokter, dan
rumah sakit. Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan
karena terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu asuhan diberikan
bermutu tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif terhadap pengobatan,
dukungan, proteksi, informasi dan advokasi sehingga pasien merasa puas.
3.
Dokter juga merasakan kepuasan
dengan model primer karena senantiasa mendapatkan informasi tentang kondisi
pasien yang selalu diperbaharui dan komprehensif.
4.
Masalah pasien dapat dipahami oleh
perawat.
5.
Kepuasan tugas secara keseluruhan
dapat dicapai.
· Kekurangan metode kasus :
1.
Kemampuan tenaga perawat pelaksana
dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara
menyeluruh.
2.
Membutuhkan banyak tenaga.
3.
Beban kerja tinggi terutama jika
jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan.
c.
Metode Tim
Pengembangan metode tim ini didasarkan pada falsafah
mengupayakan tujuan dengan menggunakan kecakapan dan kemampuan anggota
kelompok. Metode ini juga didasari atas keyakinan bahwa setiap pasien berhak
memperoleh peleyanan terbaik. Dalam keperawatan, metode tim terdiri dari
perawat professional, nonprofessional, dan pembantu perawat.
Tujuan pemberian metode tim dalam asuhan keperawatan
adalah untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan objektif
pasien sehingga pasien merasa puas. Selain itu, memungkinkan adanya transfer of knowledge dan transfer of
experiences di antara perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dan
meningkatkan pengetahuan serta memberikan keterampilan dan motivasi perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan.
Dalam asuhan keperawatan dengan metode ini, ketua tim
harus memiliki kemampuan untuk mengikutsertakan anggota tim dalam memecahkan
masalah. Ketua tim juga harus dapat menerapkan pola asuhan keperawatan yang di
anggap sesuai dengan kondisi pasien dan minat pemberi asuhan. Oleh karena itu,
pembuatan keputusan, otoritas, dan tanggung jawab ada pada tingkat pelaksana.
Hal ini akan mendukung pencapaian pengetahuan dan keterampilan professional.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka ketua tim harus memiliki kemampuan sebagai berikut
:
1)
Mengomunikasikan dan
mengoordinasikan semua kegiatan tim
2)
Menjadi konsultan dalam asuhan
keperawatan
3)
Melakukan pengkajian dan menentukan
kebutuhan pasien
4)
Menyusun rencana keperawatan untuk
semua pasien
5)
Merefisi dan menyesuaikan rencana
keperawatan sesuai kebutuhan pasien
6)
Melaksanakan observasi baik terhadap
perkembangan pasien maupun kerja dari anggota tim
7)
Melaksanakan evaluasi secara baik dan
objektif
Bila
kemampuan tersebut dapat di miliki oleh ketua tim, akan berdampak secara
positif dalam pemberian asuhan keperawatan. Dibandingkan dalam metode
fungsional, metode tim lebih banyak memberikan tanggung jawab,otoritas,dan
tanggung gugat kepada anggota tim.
·
Keuntungan Metode
Tim
Beberapa keuntungan dari metode tim
dalam pemberian asuhan keperawatan adalah :
1)
Dapat memberi kepuasan kepada pasien
dan perawat. Pasien merasa di perlakukan lebih manusiawi karena pasien memiliki
sekelompok perawat yang lebih mengenal dan memahami kebutuhannya.
2)
Perawat dapat mengenali pasien
secara individual karena perawatannya menangani pasien dalam jumlah yang
sedikit. Hal ini, sangat memungkinkan merawat pasien secara konfrehensif dan
melihat pasien secara holistic.
3)
Perawat akan memperlihatkan kerja
lebih produktif melalui kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi dengan klien.
Hal ini akan mempermudah dalam mengenali kemampuan anggota tim yang dapat di
manfaatkan secara optimal.
d.
Metode Primer
Metode ini di
kembangkan pada falsafah yang beriorentasi pada pasien bukan pada tugas. Disini
terjadi suatu desentralisasi dalam pengambilan keputuan antara perawat primer
dan pasien. Menurut Hegyvary (1982),
pemberian asuhan keperawatan dengan metode keperawatan primer memberikan setiap
perawat primer tanggung jawab menyeluruh (total care) dalam 24 jam/hari secara
terus menurus untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pada sekelompok
kecil pasien (4-6 pasien). Hal ini di mulai sejak pasien masuk hingga pulang/keluar
(Gullies, 1994). Pada saat perawat primer tidak masuk, tindakan perawatan dapat
dilakukan oleh perawat penggantinya (perawat asisten).
Dalam
aplikasi metode keperawatan primer, perawat primer bertanggung jawab kepada
setiap pasien untuk mengkaji kondisi kesehatan, keadaan kehidupannya, dan
kebutuhan keperawatan. Selain itu, perawat primer memberikan perawatan sesuai
rencana yang dibuat dan mengkoordinasi perawatan yang diberikan oleh anggaota
tim kesehatan lainya, misalnya memberikan rujukan atau konsultasi dengan dokter
atau lainnya untuk memberikan asuhan keperawatan individual, mengevaluasi
keberhasilan asuhan keperawatan yang dicapai, serta menyiapkan pasien pulang (discharge planning).
·
Keuntungan Metode
Keperawatan Primer :
a)
Asuhan keperawatan lebih
konprehensif dengan memperlakukan pasien secara holistic
b)
Pasien akan merasa lebih puas karena
terjadi kesinambungan perawatan
c)
Perawat lebih puas karena disamping
memiliki otoritas, perawat juga memiliki tanggung gugat didalam memberikan
asuhan, hubungan terus menerus antara perawat dan pasien akan memudahkan pasien
menyampaikan permasalahan serta dapat memperpendek lama hari perawatan bagi
pasien.
3. Proses Keperawatan
Proses keperawatan merupakan proses
pengambilan keputusan yang dilakukan perawat dalam menyusun kegiatan asuhan
secara bertahap. Kebutuhan dan masalah pasien merupakan titik sentral dalam
pengambilan keputusan. Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam pengambilan
keputusan adalah :
a)Identifikasi
masalah,
b)
Menyusun alternatif penyelesaian
masalah,
c)Pemilihan
cara penyelesaian masalah yang tepat dan melaksanakannya,
d)
Evaluasi hasil dari pelaksanaan
alternatif penyelesaian masalah.
Seluruh langkah pengambilan
keputusan ini tertuang pada langkah-langkah proses keperawatan yaitu:
a)Pengkajian
fokus pada keluhan utama dan eksplorasi lebih holistik,
b)
Diagnosis yaitu menetapkan hubungan
sebab akibat dari masalah masalah keperawatan,
c)Rencana
tindakan untuk menyelesaikan masalah,
d)
Implementasi rencana dan
e)Evaluasi
hasil tindakan.
4. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan
unsur penting dalam sistem pelayanan keperawatan, karena melalui
pendokumentasian yang baik, maka informasi mengenai keadaan kesehatan pasien
dapat diketahui secara berkesinambungan. Disamping itu, dokumentasi merupakan
dokumen legal tentang pemberian asuhan keperawatan. Secara lebih spesifik,
dokumentasi berfungsi sebagai sarana komunikasi antar profesi kesehatan, sumber
data untuk pemberian asuhan keperawatan, sumber data untuk penelitian, sebagai
bahan bukti pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan.
Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. Dokumentasi berdasarkan
masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan, catatan tindakan
keperawatan, dan catatan perkembangan pasien.
C.
Model Praktek Keperawatan di
Pelayanan Kesehatan
1.
Model Praktek di Rumah Sakit
Rumah sakit
sebagai suatu sistem pelayanan Kesehatan yang mengemban tugas melaksanakan
upaya Kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya
penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan
upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Berdasarkan
tugas rumah sakit di atas, maka salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan
pelayanan dan asuhan keperawatan. Yang dimaksud dengan pelayanan
keperawatan di rumah sakit adalah salah satu jenis pelayanan
professional yang diselenggarakan oleh rumah sakit untuk melayani kebutuhan
masyarakat khususnya dalam bidang keperawatan yang diorganisir melalui
pelayanan rawat inap. Seluruh kegiatan pelayanan keperawatan di rumah sakit
diselenggarakan selama 24 jam sehari secara berkesinambungan. Kegiatan tersebut
diatur dan diorganisir oleh manajer keperawatan. Pelayanan keperawatan sebagai
bagian integral dari pelayanan Kesehatan di rumah sakit, menentukan mutu
pelayanan Kesehatan di rumah sakit, oleh karena keberadaan perawat yang
memberikan asuhan keperawatan selama 24 jam secara berkesinambungan. Keluhan
masyarakat terhadap pelayanan keperawatan pada umumnya ditujukan pada sikap
perawat yang kurang baik, kurang terampil dalam berkomunikasi.
Dalam aspek
pelayanan keperawatan dimana pelayanan keperawatan sebagai bentuk kegiatan
utama dari pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada masyarakat belum dapat
diwujudkan sebagai pelayanan Kesehatan yang berkualitas. Keadaan actual
pelayanan keperawatan menunjukkan bahwa banyak tenaga keperawatan lebih
berkonsentrasi dan terlibat dengan tindakan pengobatan dan penggunaan tehnologi
yang berorientasi medik untuk mengatasi kompleksitas penyakit. Mereka berupaya
untuk saling mendukung dengan profesi Kesehatan lain, namun sebagai praktisi
mereka masih dinilai lebih rendah untuk komitmen dan tanggung jawab penting
yang diembannya.
Sebaliknya,
sedikit sekali perawat yang melakukan pelayanan keperawatan berorientasi
keperawatan yang dilandaskan pada teori dan konsep keperawatan untuk memenuhi
kebutuhan individu yang sedang merngalami respon terhadap penyakit dan
pengobatan. Sehingga karakteristik dari peran dan fungsi keperawatan dalam
sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit kurang terlihat secara jelas. Hal ini
dapat memfasilitasi situasi yang kurang kondusif bagi tenaga keperawatan dalam
mengembangkan kemampuan profesionalnya. Menyikapi kesenjangan yang terjadi
dalam konteks pelayanan keperawatan, dirasakan perlunya upaya mengembangkan
manajemen asuhan keperawatan sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan
keperawatan pasien.
2
C.
Model Keperawatan di Masyarakat (Puskesmas)
Menurut The American Public Health Association perawat
kesehatan masyarakat adalah praktek dari promosi dan perlindungan populasi
dengan menggunakan pengetahuan keperawatan, ilmu social dan kesehatan
masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2000).
Sesuai
dengan Kepmenpan No.94 (2001) upaya keperawatan kesehatan masyarakat adalah
pelayanan professional yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan di
puskesmas yang dilaksanakan oleh perawat.
Perawat puskesmas mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan
keperawatan dalam bentuk asuhan keperawatan individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat, untuk mencapai kemandirian masyarakat baik di sarana pelayanan
kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas.
Perawat
Kesehatan di puskesmas adalah semua perawat di puskesmas yang menjabat sebagai
pejabat fungsional perawat dan bekerja di puskesmas yang disebut dengan perawat
puskesmas (Depkes RI, 2004).
Pelaksana utama dari kegiatan keperawatan kesehatan
masyarakat adalah semua perawat fungsional keperawatan di puskesmas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model Praktek Keperawatan Profesional
merupakan suatu model yang memberi kesempatan kepada para perawat profesional
untuk menerapkan otonominya dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi
pelayanan/asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Model ini selalu
mengupayakan bentuk pelayanan dan asuhan keperawatan yang dapat memenuhi
kebutuhan pasien melalui berbagai pendekatan.
Terdapat 4
komponen utama dalam model praktek keperawatan profesional, yaitu Ketenagaan keperawatan,
Manajemen asuhan keperawatan, Proses keperawatan dan Dokumentasi keperawatan.
Model
praktek keperawatan di pelayanan kesehatan terbagi menjadi 2 yaitu : Model
praktek pelayanan di Rumah Sakit dan di Puskesmas (Masyarakat)
No comments:
Post a Comment